backgroud
logo

Nasional

 

Vaksin CanSino, Sinovac, dan G42 (Sinopharm) Siap Didistribusikan pada November

Vaksin CanSino, Sinovac, dan G42 (Sinopharm) Siap Didistribusikan pada November

 
Vaksin CanSino, Sinovac, dan G42 (Sinopharm) Siap Didistribusikan pada November
Ilustrasi vaksin corona virus. (Net)
WJtoday
Rabu, 21 Oktober 2020 | 06:18 WIB
WJtoday, Jakarta - Total kasus Covid-19 di Indonesia yang mencapai 365.000 jiwa, tentu sangat menghawatirkan. Untuk itu, pemerintah telah melakukan tindakan preventif guna mencegah penyebaran virus agar tidak menyebar luas. Di antaranya dengan memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), selain itu pemerintah juga berupaya mencari obat atau vaksin untuk penyembuhan Covid-19.

Menteri Riset dan Teknologi Indonesia/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Indonesia Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mengatakan, sudah ada tiga vaksin, yaitu CanSino Biological, Sinovac Biotech, dan G42 (Sinopharm) yang siap didistribusikan pada November.

"Sudah siap didistribusikan pada November," kata dia dalam webinar HUT ke-56 Golkar, Selasa (20/10). 

Bambang juga menjelaskan kesiapan dari vaksin merah-putih. Vaksin tersebut dibuat melalui tiga platform yang dikembangkan oleh enam bidang akademisi peneliti, yaitu protein rekombinan(LIPI-Eijkman), DNA atau mRNA(Unud-UI) dan adenovirus(ITB-Unair). Setelahnya melakukan upaya pengadaan dengan produsen luar negeri agar proses produksi menjadi lebih cepat.

Uji klinis vaksin merah-putih akan dilakukan PT Biofarma, yang merupakan induk dari Indofarma dan Kimia Farma.

Terkait dengan mutasi virus dari jenis GH ke L, dia menegaskan, hal itu tidak membuat penyakit ini lebih membahayakan dan tidak akan mengganggu development riset dari vaksin tersebut.

Menristek mengaku perlu sinergisitas dari pemerintah, akademisi, peneliti, dan dunia industri untuk mendorong perkembangan vaksin tersebut. Untuk distribusi vaksin sendiri terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pola kontak sosial, kelompok umur dan penyakit bawaan, serta berdasarkan lokasi.

Selain pengembangan vaksin, Kemenristek/BRIN tengah mendorong terapi yang berguna untuk kategori sedang, yaitu plasma konvalesen. Melalui terapi ini, pasien Covid-19 yang sudah sembuh mendonorkan plasma darahnya untuk orang yang terinveksi Covid-19. Akan tetapi pengambilan plasma darah ini tidak bisa sembarangan, karena harus memiliki titer antibodi yang cukup tinggi berdasarkan hasil uji netralisasi.

Kemenristek/BRIN juga tengah melakukan pengembangan sel punca (steem cell) untuk memperbaiki jaringan paru-paru yang rusak, pil kina, dan membuat antiserum berbasis telur ayam.

Yang terakhir bekerja sama dengan Kalbe, yakni pembuatan immune modulator yang merupakan suplemen antibodi berbahan baku herbal Indonesia spesifik untuk Covid-19 yang sedang menunggu hasil penilaian dari BPOM.

"Dengan semua upaya dan inovasi tersebut, diharapkan dapat mencegah atau bahkan menghentikan penyebaran Covid-19 di Indonesia," harap dia. ***

WJT / Wan

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya