backgroud
logo

Opini

 

Hampir Setahun, Pemerintah Masih Berkutat Soal Perilaku Masyarakat Hadapi Pandemi, Apa yang Keliru?

Hampir Setahun, Pemerintah Masih Berkutat Soal Perilaku Masyarakat Hadapi Pandemi, Apa yang Keliru?

 
Hampir Setahun, Pemerintah Masih Berkutat Soal Perilaku Masyarakat Hadapi Pandemi, Apa yang Keliru?
Kerumunan di Tengah Pandemi. (WJtoday)
WJtoday
Selasa, 5 Januari 2021 | 07:07 WIB
WestJavaToday.com - Pandemi sudah berlangsung hampir satu tahun. Namun, kampanye pemerintah seperti memakai masker dan menjaga jarak, ternyata masih belum maksimal. Hal itu terlihat dari mudahnya menemukan kerumunan orang yang tidak berjarak dan tanpa masker hingga hari ini.

Dr Achmad Munjid menilai, karena kampanye sudah berlangsung hampir setahun, bisa disimpulkan mereka yang tidak berubah perilakunya bukan karena tidak memahami pesan kampanye itu. Achmad Munjid adalah dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

“Jadi, sebagian besar lebih karena tidak mau tahu. Dan tidak mau tahu itu bisa karena kepercayaan, bisa karena kebiasaan, bisa karena faktor-faktor lain yang membuat mereka tidak mau mengubah perilaku itu,” kata Munjid.


Dr Achmad Munjid

Memanusiakan Masyarakat

Dalam analisanya, Munjid menyebut faktor ketidakpedulian bisa muncul karena sebagian masyarakat merasa tidak diposisikan semestinya. Dalam kebudayaan Jawa, ada konsep diowongke, atau dimanusiakan. Sebuah tindakan yang menempatkan pihak lain setara, sehingga komunikasi berjalan dua arah dalam posisi yang sama.

“Ini saya kira dalam analisis mengenai wabah, kita sudah melihat banyak sekali angka-angka, data dan segala macam, tetapi seringkali wajah manusianya itu hilang,” tambah Munjid.

Karena manusia memiliki kemauan dan ketakutan, harus dicari alasan mengapa mereka tidak mengubah perilaku. Padahal kalangan medis sudah berupaya tanpa henti meyakinkan dampak virus Covid-19. Data kasus positif dan kematian yang terus meningkat juga dipaparkan setiap hari. Namun itu semua tidak mampu mengubah sikap sebagian masyarakat.

Munjid berbicara dalam diskusi mingguan Sambatan Jogja (Sonjo), Minggu (3/1) malam. Diskusi kali ini membahas tema Kebiasaan Baru: Screening GeNose di Tempat Keramaian.


GeNose yang dibahas adalah sebuah alat temuan baru dari para pakar di UGM yang berfungsi melakukan skrining secara cepat. Alat ini mampu mendeteksi keberadaan virus Covid-19 di tubuh seseorang melalui nafas dalam waktu kurang dari lima menit. Pemerintah telah berkomitmen untuk membeli alat ini guna menskrining masyarakat di lokasi yang menghadirkan kerumunan, seperti bandara, stasiun, terminal bus, perkantoran hingga pabrik.

Namun, Munjid mengingatkan, betapapun canggih teknologi dan alatnya, yang paling menentukan apakah akan berhasil atau tidak pada akhirnya adalah respons masyarakat. Dikatakan Munjid, apa yang sudah jelas bagi sebagian orang, belum tentu sama bagi orang lain.

Menurutnya, masyarakat adalah entitas yang tidak homogen, memiliki pengetahuan berbeda, kepentingan sosial, ekonomi dan politik yang berbeda, serta relasi sosial dan situasi sosial yang juga tidak sama.

Skrining untuk Ubah Perilaku

Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Prof Ova Emilia, menilai alat skrining sebenarnya bisa dipakai untuk mengubah perilaku masyarakat.

“Kita ini sudah sudah hampir satu tahun, mencoba meminta orang untuk taat 3M (menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan -red) dan bisa melakukan 3T (testing, tracing, treatment -red) dengan baik, tetapi ternyata memang tidak semudah itu. Ternyata orang mau mengubah perilaku itu bukan hanya karena informasi,” kata Ova.

Karena informasi yang diberikan ke masyarakat sudah cukup, tetapi perilaku masyarakat tidak berubah, Ova menilai perlunya enforcement atau tindakan berdasar aturan.

“Saya melihat potensi dari GeNose ini malah justru untuk meng-enforce perilaku orang,” kata Ova.

Dalam konsep ini, GeNose tidak hanya sebagai alat deteksi, tetapi juga peluang untuk mengatur mobilitas orang. Penempatan alat ini di area publik, akan membuat setiap orang berpikir bahwa dia harus memastikan dirinya aman, dalam arti statusnya negatif Covid-19. Dengan demikian, dia juga akan membuat orang lain yang berada di area tersebut aman dari penularan. Upaya penempatan GeNose pada akhirnya mampu mengubah perilaku dan memastikan masyarakat saling menjaga.

Tidak Semua Rasional