backgroud
logo

Bisnis

 

Bisnis Pakaian Kucing Kala Pandemi; Iseng-iseng Menguntungkan

Bisnis Pakaian Kucing Kala Pandemi; Iseng-iseng Menguntungkan

 
Bisnis Pakaian Kucing Kala Pandemi; Iseng-iseng Menguntungkan
Produksi Pakaian Kucing. (WJtoday)
WJtoday
Sabtu, 9 Januari 2021 | 10:25 WIB
WJtoday, Bogor - Ada banyak cara mengatasi kesulitan ekonomi. Bagi Fredi Lugina Priadi, jawabnya adalah beralih profesi dari guru menjadi penjahit. Tapi, ia bukan penjahit pakaian biasa. Ia menekuni bisnis pakaian kucing. 

Ini bukan bisnis haute couture atau adibusana. Tapi bagi Fredi, bisnis yang satu ini memberinya ruang untuk mencurahkan aspirasi seninya di bidang rancang busana sekaligus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Setelah berhenti mengajar karena gaji yang kecil, Fredi sebetulnya mencoba berbagai bisnis, termasuk membuka bengkel sepeda motor. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Begitupun ketika ia membuka toko jahit pakaian pinggir jalan di Bogor.

Peruntungannya berubah setelah ia berbincang-bincang dengan kakak dan keponakannya yang gemar memelihara kucing. Mereka mengusulkan, mengapa ia tidak mencoba bisnis pakaian kucing.

“Awalnya saya anggap itu aneh. Masak sih kucing atau anjing mengenakan pakaian? Tapi setelah saya search dan lihat di Google, eh lucu juga kalau kucing atau hewan pakai pakaian,” kata Fredi.


Bisnis pakaian kucing ini dimulainya sejak 2017. Awalnya terkesan kurang menjanjikan. Fredi menawarkan pakaian-pakaian kucing hasil karyanya secara online lewat media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Ia juga memasarkannya ke toko-toko hewan dengan sistem konsesi, dan sesekali menerima pesanan khusus. Namun, seiring perjalanan waktu, dan makin populernya sosial media, permintaan pun makin meningkat.

Semasa pandemi, pria berusia 39 tahun ini mengaku, bisnisnya meningkat 20 hingga 30 persen. Ia kini sibuk menerima pesanan dari para pemilik hewan peliharaan yang ingin kucing atau anjing mereka berpakaian mirip Superman, Thor, atau tokoh-tokoh imajinasi lain. Tak sedikit juga pecinta hewan yang memesan pakaian seragam perawat, polisi, tentara atau bahkan busana Muslim. Beberapa pelangganya bahkan dari luar negeri.

Setiap bulannya Fredi kini meraup pendapatan sekitar 2,5 hingga 3 juta rupiah. Pakaian-pakaian itu dipasarkan dari harga 100 ribu hingga 150 ribu rupiah per potong.Sesekali Fredi menerima pesanan khusus dan harganya bisa melambung hingga lima ratus ribu rupiah.


Menurut Fredi, sementara banyak orang yang menilai pakaian-pakaian hasil karyanya menarik, tak jarang ia mendapat kritikan di media sosial terkait kesejahteraan hewan. Seorang warga Amerika, katanya, pernah mengecamnya karena dengan memproduksi pakaian hewan seperti membuka peluang terjadinya perlakuan keji terhadap hewan.

Fredi sendiri tidak membantahnya, dan ia selalu menyarankan para pelanggannya untuk tidak terlalu lama mengenakan pakaian pada hewan peliharaan mereka untuk menghindari terjadinya stres pada hewan.

“Produk saya ini hanya sekadar aksesoris. Hewan itu sudah memiliki pakaian yang paling sempurna, yang diberikan oleh Tuhan, yaitu bulu-bulu mereka,“ jelas Fredi.

Menyusul booming foto atau video di media sosial tentang hewan peliharaan yang didandani, dan seringkali dengan pose atau pakaian yang semakin aneh, beberapa kelompok kesejahteraan hewan telah mengeluarkan pedoman untuk membuat pemilik lebih sadar akan tanda-tanda stres yang mungkin dialami hewan peliharaan mereka.***

WJT / agn

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya