backgroud
logo

Nasional

 

Klaster Baru Covid-19 di Pesantren Kembali Merebak

Klaster Baru Covid-19 di Pesantren Kembali Merebak

 
Klaster Baru Covid-19 di Pesantren Kembali Merebak
Iring-iringan ambulans membawa para santri positif covid-19 salah satu pesantren di Tasikmalaya . (ist)
WJtoday
Selasa, 23 Februari 2021 | 13:46 WIB
Wjtoday, Jakarta -  Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat munculnya klaster baru pondok pesantren di sejumlah daerah, yaitu Tasikmalaya (Jawa Barat), Boyolali (Jawa Tengah), Bangka (Bangka Belitung), dan Pekanbaru (Riau) hanya dalam kurun waktu dua bulan ini.

Merebaknya kasus covid setelah liburan semester ganjil tahun ajaran 2020/2021.   

 “Pada Januari sampai pertengahan Februari 2021, tercatat 632 santri dari enam pondok pesantren terkonfirmasi covid 19 usai balik ke ponpes setelah liburan semester ganjil," kata Sekjen FSGI, Heru Purnomo, Selasa, 23 Februari 2021.

Terbanyak, kasus adalah ponpes di Tasikmalaya yang mencapai 375 kasus, di Boyolali 88 santri tertular covid-19, di Bangka Kepulauan Bangka Belitung santri yang positif covid mencapai 125 orang, dan sebanyak 44 orang di Ponpes Dar el Hikmah Pekanbaru, terpapar covid-19.  

Heru menambahkan, melihat banyaknya santri yang terkonfirmasi covid-19, Pemerintah kota Tasikmalaya sampai menyediakan beberapa bangunan darurat isolasi di wilayahnya untuk menampung sebanyak 375 santri tersebut.  

"Karena ruang isolasi di pesantren tak mencukupi. Dinas Kesehatan kota Tasikmalaya terpaksa memilah sesuai kondisi santri positif korona yang dirawat di ruang isolasi darurat dan isolasi mandiri terpusat di lingkungan pesantrennya," terang dia.  

Menurut Heru, pesantren memiliki potensi kuat menjadi klaster penularan covid 19.  Salah satunya karena di pondok pesantren aktivitasnya cenderung bersama-sama (berkumpul) dalam waktu panjang.  

 "Bahkan bisa dikatakan 24 jam. Kalau infrastruktur dan protokol kesehatan/SOP adaptasi kebiasaan baru (AKB) tidak memadai dan rendahnya kedisiplinan untuk patuh pada protokol kesehatan, maka potensi penularan covid-19 menjadi tinggi," terangnya.  

 Di pesantren, biasanya para santri setiap hari juga melakukan makan bersama, juga salat berjamaah.  Bahkan kamar tidur santri pun diisi lebih dari satu orang, antara 4-10 santri.  

Sebelumnya, hasil pemantauan FSGI pada September 2020 menunjukkan ribuan santri terkonfirmasi covid-19. Pada September 2020, jumlah santri yang positif covid-19 mencapai ribuan, angka tepatnya 1.449 kasus.  

Sedangkan pada Oktober 2020 tercatat 700 santri positif covid-19 dan pada November 2020 mencapai 940 santri, Ada ponpes di kabupaten Banyumas angka kasus santri positif mencapai 328 orang, bahkan Ponpes di Banyuwangi kasus santri positif covid paling banyak, yaitu mencapai 622 santri.  

“Dari jumlah tersebut, selain santri sudah termasuk pengelola, pegawai dan pimpinan pondok pesantren, hanya jumlahnya 99 persen didominasi santri. 

Total dari data yang dikumpulkan FSGI mencapai lebih dari  3.000 kasus covid 19 hanya dari klaster pondok pesantren dalam tiga bulan saja pada 20 pondok pesantren," ujar Fahriza Marta Tanjung, Wakil Sekjen FSGI.

Berdasarkan hal tersebut, FSGI meminta, Kementerian Agama (Kemenag) memastikan infrastruktur adaptasi kebiasaan baru (AKB) serta kepatuhan terhadap protokol kesehatan sesuai AKB, sehingga mencegah munculnya klaster baru di pondok pesantren.

Selain itu, meminta pemda dan Satgas Covid-19 melakukan intervensi ponpes terkait kesiapan infrastruktur fisik maupun kesanggupan penerapan protokol kesehatan Covid-19 melalui pendekatan dan komunikasi yang baik.

Terakhir, FSGI meminta setiap pondok pesantren menerapkan kewajiban testing Covid-19 untuk seluruh santri, pengelola dan pengajar untuk memastikan para santri dalam keadaan sehat.***

WJT / Red

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya