Gina S Noer Soal Peringatan Hari Film Nasional

Gina S Noer Soal Peringatan Hari Film Nasional
Sutradara Gina S Noer
WJtoday, Jakarta - Sutradara Gina S Noer mengatakan Hari Film Nasional menjadi sebuah momen pengingat agar para pelaku industri film terus berkarya dan merefleksi karya.
"Ritual kebahagiaan ini tuh penting banget untuk mengingatkan kita kembali bahwa betapa pentingnya untuk mengingat kembali sesuatu yang kita cintai, kayak misalnya hari ulang tahun kan kita merayakan," kata Gina dalam Instagram Live "Merayakan Hari Film Nasional".
"Hari Film Nasional adalah sebuah perayaan kenapa sih Film Indonesia perlu dibuat, perlu ditonton, perlu dikembangkan industrinya," imbuh Gina.
Sutradara "Dua Garis Biru" itu mengatakan perayaan Hari Film Nasional sangat penting untuk dimeriahkan terlebih dalam situasi pandemi seperti sekarang. Menurutnya, ini adalah waktu yang tepat untuk mengajak masyarakat kembali ke bioskop.
"Kita tahu bahwa bioskop itu penting sekali buat perfilman Indonesia, makanya kayak filmmaker kekasih utamanya itu bioskop, makanya harus merayakannya dengan menonton bersama di bioskop dengan protokol kesehatan," ujar Gina.
Menurutnya pandemi COVID-19 bukan halangan bagi masyarakat untuk tetap menyaksikan film Indonesia di bioskop dan juga bagi sineas untuk berkarya. Dengan beradaptasi dengan situasi saat ini, perfilman Indonesia dapat terus bergerak.
"Utamanya kita harus bisa beradaptasi, harus bisa bergerak maju, tapi juga sadar apa aja yang dibutuhkan untuk bisa bergerak bareng-bareng yakni dengan menonton, berkarya dan sebagainya," kata penulis naskah "Keluarga Cemara" itu.
Hari Film Nasional diperingati setiap 30 Maret. Penetapan tersebut diambil dari peristiwa pengambilan gambar film "Darah dan Doa" sebagai penanda sejarah bangkitnya industri perfilman Indonesia.
Film "Darah dan Doa" yang disutradarai oleh Usmar Ismail diambil pada 30 Maret 1950. Film disebut sebagai karya film pertama yang dibuat oleh orang Indonesia asli.
Dalam proses produksinya, film "Darah dan Doa" mengisahkan gambaran masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.***