Heboh Penolakan Teknologi Nyamuk Wolbhacia dan Minimnya Sosialisasi

Heboh Penolakan Teknologi Nyamuk Wolbhacia dan Minimnya Sosialisasi

WJtoday, Bandung - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menyebut terjadinya penolakan masyarakat terhadap penyebaran jutaan telur nyamuk ber-Wolbachia di Bali akibat pemerintah minim sosialisasi dan transparansi.

"Apakah masyarakat sudah mendapat penjelasan dan sosialisasi dari pemerintah tentang rencana penyebaran jutaan telur nyamuk ber-Wolbachia ini?  Wajar jika masyarakat menolak dan takut karena mereka belum mengerti," kata Netty dalam keterangan tertulis, di Jakarta, dikutip Selasa (21/11/2023).

Berdasarkan info Kemenkes, penyebaran telur nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia dilakukan guna menekan angka DBD yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti. 

Menurut Kemenkes, bakteri Wolbachia yang dapat mengurangi virus dengue merupakan bakteri alamiah yang memang sudah ada pada 60 persen serangga, jadi bukan hasil rekayasa genetika. 

Berdasarkan penelitian, jika nyamuk dengan bakteri Wolbachia kawin dengan nyamuk Aedes Aegypti maka bakteri tersebut dapat menekan virus dengue penyebab DBD.

Oleh karenanya, Politisi Fraksi PKS dari daerah pemilihan Cirebon-Indramayu ini meminta pemerintah melalui Kemenkes memberikan penjelasan akurat dan transparan tentang rencana tersebut.

"Masyarakat perlu tahu, apakah penyebaran telur nyamuk tersebut berbahaya atau tidak? Apalagi saat ini sudah berkembang informasi bahwa ada hidden agenda di balik rencana tersebut. Pemerintah harus transparan dalam memberikan penjelasan," papar Netty.

Netty juga meminta pemerintah agar menekan penyebaran kasus DBD melalui cara-cara yang ilmiah dan dipahami masyarakat, jangan justru menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran.

"Apalagi ini sudah memasuki musim penghujan maka potensi lonjakan kasus DBD itu sangat tinggi. Setiap upaya penanganan kasus DBD harus diawali dengan kajian dan sosialisasi terlebih dahulu oleh pemerintah. Penting adanya pelibatan para ahli dalam mengkaji rencana ini," pungkasnya. 

Heboh Pelepasan Nyamuk Wolbachia Tekan Kasus DBD dan Kontroversi
Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi tantangan bagi sektor kesehatan dunia, tak terkecuali Indonesia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2019 menyebutkan infeksi dengue merupakan masalah kesehatan global dengan estimasi kejadian sekitar 390 juta orang setiap tahunnya.

Sementara data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menunjukkan, jumlah kasus dengue mencapai 131.265 pada 2022. Sebanyak 40 persen dari total kasus tersebut adalah anak-anak usia 0-14 tahun. Sedangkan jumlah kematian akibat infeksi virus dengue mencapai 1.135 kasus dengan 73 persen terjadi pada anak usia 0-14 tahun. 

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kemenkes tidak hanya fokus pada langkah mengobati melainkan juga upaya pencegahan. Upaya tersebut dilakukan dengan mengembangkan inovasi pengendalian kasus demam berdarah dengue nasional, salah satunya melalui teknologi Wolbachia. 

Teknologi ini memanfaatkan bakteri Wolbachia yang secara alami terdapat di sejumlah serangga dan dicermati dapat melumpuhkan virus dengue.

Direktur Pencegahan Penyakit Menular Langsung dr Imran Pambudi pada Februari 2023 mengatakan, teknologi Wolbachia sudah dilaksanakan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasilnya, teknologi tersebut mampu menurunkan angka kejadian infeksi dengue hingga 77,1 persen dan tingkat rawat inap sebesar 82,6 persen.

"Teknologi Wolbachia akan menjadi pelengkap dalam program pengendalian DBD yang sudah ada, seperti PSN 3M Plus, Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J), dan Pokjanal Dengue (DBD)," ucap Imran pada waktu itu.

Dalam kesempatan yang sama, Imran mengatakan, ancaman kasus dengue terbanyak terjadi di kota-kota besar, karenanya inovasi teknologi Wolbachia bakal difokuskan di wilayah perkotaan.

Namun, upaya penanggulangan DBD dengan teknologi Wolbachia menuai kontroversi di kalangan publik serta peneliti. Bahkan kontroversi tersebut pun berkembang menjadi disinformasi yang beredar di media sosial serta penolakan masyarakat.

Beberapa konten terkait program pelepasan nyamuk Wolbachia menyebut, penyebaran nyamuk itu sebagai senjata pembunuh dari tokoh dunia dalam misi mengurangi populasi dunia. Ada pula konten lain yang mengatakan, gigitan nyamuk yang telah diberikan bakteri Wolbachia bisa menyebabkan kerusakan otak. 

Dan ada pula yang menganggap penyebaran nyamuk Wolbachia tak ubahnya menjadikan rakyat Indonesia sebagai bahan eksperimen terhadap efek nyamuk tersebut.

Kontroversi seputar nyamuk Wolbachia mewarnai jagad media sosial. Ajakan penolakan terhadap pelepasan nyamuk Wolbachia mencuat pada pertengahan November 2023. 

Bahkan kekhawatiran akan dampak yang ditimbulkan nyamuk ber-Wolbachia itu berimbas pada ditundanya pelepasan nyamuk di Denpasar, Bali yang rencananya akan dilakukan pada 13 November 2023. 

Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya sepakat menunda penyebaran nyamuk Wolbachia karena masih ada pro dan kontra dari masyarakat Bali.

"Kalau masih ada masyarakat yang tidak menerima, berarti kita tunda dulu," ujar Mahendra di Denpasar, Senin (13/11), dilansir Antara.

Menurutnya, metode penyebaran nyamuk Wolbachia untuk menekan kasus DBD masih perlu sosialisasi dari pemrakarsa sehingga semua masyarakat bisa menerima.

Tanggapan Kemenkes
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Siti Nadia Tarmizi mengakui ada penundaan terhadap penyebaran jutaan nyamuk wolbachia di Bali. Ini dikarenakan ada pihak-pihak yang belum mendapatkan informasi secara jelas terkait manfaat inovasi wolbachia.

"Penundaan lebih kepada kurang optimalnya penyiapan masyarakat, sehingga ada pihak yang merasa belum mendapatkan informasi yang sebenarnya," terang Nadia seperti dikutip dari Liputan6.com.

Penundaan penyebaran wolbachia yang mencuat, kata Nadia, bukan menyoal soal teknologi, melainkan soal informasi dan kesiapan terhadap masyarakat.

"Memang ada sekelompok orang yang mengatasnamakan masyarakat yang cinta Bali bersikeras menunda sebelum semua pihak mendapatkan informasi dan kesiapan yang memadai. Awalnya, bukan kepada persoalan teknologinya yang telah terbukti efektif dan aman," paparnya.

Siti Nadia Tarmizi menegaskan, pilot project penyebaran wolbachia akan tetap dilanjutkan ke daerah lain di Indonesia. Hal ini merujuk pada keputusan Menteri Kesehatan RI.

"Piloting di wilayah lain tetap dilanjutkan karena mengacu kepada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1341/2022 Tentang Penyelenggaraan Pilot Project Penanggulangan Dengue dengan Metode Wolbachia," ujar Nadia

Sebelumnya, uji coba penyebaran nyamuk ber-wolbachia telah dilakukan di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pada tahun 2022.

Hasilnya, di lokasi yang telah disebar wolbachia diklaim terbukti mampu menekan kasus demam berdarah hingga 77 persen, dan menurunkan proporsi dirawat di rumah sakit sebesar 86 persen.  ***