Hijrah sebagai Jihad Perbaiki Kualitas Hidup Menuju Kebaikan

Hijrah sebagai Jihad Perbaiki Kualitas Hidup Menuju Kebaikan
Semoga, pada awal tahun baru 1444 H ini, mengintrospeksi diri atas segala langkah yang telah kita lewati pada tahun 1443 H yang lalu, untuk kemudian mengoreksinya. (wjtoday/yoga enggar)

WJtoday, Bandung - Imam Ali Ibnu Abi Thalib Karramallâhu Wajhah berkata: Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung, dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang celaka.

Dari nasihat Imam Ali di atas ini dapat kita petik pelajaran Islam menghendaki pemeluknya untuk senantiasa meningkatkan kualitas hidupnya, baik pada sisi material, intelektual, lebih lagi pada sisi moral-spiritualnya.

Berkenaan dengan wejangan Sayyidina Ali di atas, cara terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup pada tahun 1444 H ini adalah dengan kembali bercermin dan meneladani ruh dan makna hijrah itu sendiri.

Hijrah menurut bahasa memiliki dua arti, pertama secara zhahiriy, yaitu perpindahan dari suatu tempat menuju ke tempat yang lebih baik. 

Dan kedua secara ma’nawiy, yaitu perubahan dari satu kondisi kepada kondisi yang lebih baik. Hijrah yang berakar kata hajara juga memiliki arti meninggalkan/menjauhkan diri.

Ketiga sisi etimologis hijrah di atas, baik secara dhahiriyah maupun maknawiyah, yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat Ra, dari kota Mekkah menuju Yatsrib (Al-Madinah Al-Munawwarah).

Lalu bagaimana berhijrah pada konteks kekinian? Hijrah adalah sebuah etos dan spirit yang harus terus dirawat dalam kehidupan. 

Hijrah adalah sebuah upaya keras (jihad) untuk memperbaiki kualitas hidup yang berisi dan menuju kepada kebaikan dan perbaikan, dalam bingkai peribadatan. Allah SWT, Berfirman dalam surah An-Nisaa’ ayat 100:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat/cita-cita yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan berusaha keras agar kehidupan diri, keluarga, masyarakat serta bangsa berjalan pada koridor yang diridhoi oleh Allah SWT, sesuai dengan tuntunan serta panduan yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang diwarisi dan diajarkan oleh para ulama. 

Inilah satu-satunya cara, yang bila cara tersebut ditempuh, maka garansinya adalah suatu perubahan menuju kepada situasi dan kondisi kehidupan yang lebih baik dan beradab, sebagaimana yang telah Allah janjikan kepada kita pada ayat di atas.

Dalam berhijrah, secara lebih spesifik, Rasulullah berwasiat kepada kita:

والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه (رواه البخاري)

Artinya: Dan orang yang berhijrah adalah orang yang telah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. (HR. Imam Al-Bukhari)

Wasiat Rasulallah di atas senada dengan apa yang telah Allah wajibkan dalam surah Al-Muddatstsir ayat 5: "Dan dari segala perbuatan dosa, maka hijrahlah (tinggalkanlah)."

Memperkokoh niat dan mengoptimalkan daya upaya untuk menaati segala perintah dan larangan Allah, inilah esensi dari kewajiban hijrah. 

Semoga, pada awal tahun baru 1444 H ini, mengintrospeksi diri atas segala langkah yang telah kita lewati pada tahun 1443 H yang lalu, untuk kemudian mengoreksinya dan menjadikannya sebagai modal guna memperbaiki dan meningkatkan kualitas ketaatan, sehingga tidak menjadi orang yang merugi, apalagi celaka.

Semoga kita semua dalam bimbingan serta lindungan Allah SWT. Aamiin.   ***

* KH Ibrahim Musa, S.Pd.I (Komisi Dakwah MUI Kabupaten Bekasi)