Kemenkes Klaim Angka Stunting Nasional pada Anak Menurun

Kemenkes Klaim Angka Stunting Nasional pada Anak Menurun
Lihat Foto

WJtoday, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut angka stunting terhadap anak di Indonesia mengalami penurunan. 

"Sampai terakhir pengukuran di tahun 2021, angka stunting terus mengalami penurunan sebesar 3,5% per tahun," kata Juru bicara Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi melalui keterangannya, dikutip Rabu (31/8/2022).

Sedangkan untuk target di tahun 2024, kata Nadia, berada di angka 14 persen. 
"Yang artinya kalau kita melihat tren, angka ini bisa tercapai," ujarnya.

Menurut Nadia, untuk penurunan angka stunting dilakukan dengan dua intervensi. Pertama, intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung, serta intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung.

"Kita tahu intervensi gizi spesifik ini berkontribusi terhadap 70 persen yang dilakukan di luar sektor kesehatan. Sedangkan intervensi gizi sensitif berkontribusi 30 persen," terangnya. 

Siti menjelaskan, intervensi perlu dilakukan pada seribu hari pertama kehidupan, yaitu kepada ibu di masa kehamilan, dan remaja putri. 
"Tentunya lebih fokus pada sektor kesehatan," kata Nada.

Menurut dia, upaya pertama pencegahan stunting adalah pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi para remaja putri. 

"Karena kita tahu 11 persen remaja putri di Indonesia masih mengalami kejadian anemia," jelasnya.

Untuk itu, Kemenkes memiliki kegiatan aksi bergizi bekerja sama dengan Kemendikbudristek. 
"Kegiatan aksi bergizi ini dilakukan di sekolah-sekolah," ujarnya.

Intervensi kedua, yakni dengan pemberian TTD, pemeriksaan kehamilan dan pemberian makanan tambahan pada ibu hamil. 
"Karena kita tahu asupan gizi pada saat kehamilan itu menjamin anak-anak yang akan dilahirkan untuk tumbuh sesuai dengan usianya," ujarnya.

Upaya ketiga, kata dia, adalah dengan pemberian makanan tambahan berupa protein hewani pada anak usia 6-24 bulan.

Kementerian Kesehatan, ujarnya, juga melakukan skrining anemia pada remaja putri. Menurutnya, untuk melakukan skrining ini disediakan alat Genetic Screening Processor (GSP) dan DBS Puncher Perkinelmer. 

"Alat ini didistribusikan ke seluruh Puskesmas di seluruh Indonesia," ujarnya. 

Selain itu, pihaknya juga menyediakan alat anthropometry yang disebarkan ke seluruh Posyandu. 

"Supaya ada standar pengukuran tinggi badan dan berat badan anak-anak kita," ujarnya.

Ia memastikan pembagian alat anthropometry ini tidak hanya terbatas di Pulau Jawa ataupun perkotaan. 

"Tetapi juga di daerah dengan kasus stunting yang tinggi," kata Nadia mengakhiri. ***