Kian Jumbo, Jumlah Utang Pemerintah RI Bisa Tembus Rp11.880 Triliun pada 2028

Kian Jumbo, Jumlah Utang Pemerintah RI Bisa Tembus Rp11.880 Triliun pada 2028

WJtoday, Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kebutuhan pembiayaan negara yang terlalu besar membuat utang luar negeri sulit untuk dihindari.

Posisi utang pemerintah Indonesia mencapai Rp7.848,8 triliun per 31 April 2023. Dengan jumlah tersebut, rasio utang RI terhadap produk domestik bruto (PDB) kini mencapai 38,15%.

Menurut data APBN Kita periode Mei 2023, utang RI saat ini terdiri dari 89,26% berbentuk Surat Berharga Negara dan 10,74% berupa pinjaman. (Lihat gambar di bawah ini.)

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah mengatakan, pemerintah diminta mengelola utang secara hati-hati dengan risiko yang terkendali melalui komposisi optimal, baik mata uang, suku bunga, maupun jatuh tempo. 

Hal ini disampaikan dalam rapat Pembicaraan Pendahuluan membahas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2024  di ruang rapat Banggar DPR RI, Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa (30/5/2023).

“Meskipun sejauh ini utang pemerintah terpola dengan baik, dan jauh dari batas atas 60 persen PDB, namun Pemerintah perlu membuat roadmap yang jelas dan terukur untuk mengurangi utang yang semakin membesar, agar utang yang besar ini tidak menjadi beban bagi generasi berikutnya,” kata Said.

Sebagai informasi, porsi bunga utang terhadap PDB juga mengalami peningkatan pada kisaran 2,0%.

Dari kenaikan tersebut, pembayaran bunga utang dalam APBN 2023 akan mencapai Rp 441,4 triliun atau 2,10% dari PDB dengan tingkat pertumbuhan mencapai 14,25%.

Lalu, masihkah utang RI aman di tengah gejolak global yang saat ini menghantui?

Kondisi Utang Pemerintah RI

Di tengah risiko gagal bayar utang AS yang kini masih menjadi gonjang-ganjing global, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan kondisi RI masih amat terkendali.

Secara jumlah, utang luar negeri Indonesia memang terpantau meroket dalam beberapa tahun terakhir. Jika dibandingkan, utang RI di era pemerintahan presiden Jokowi memang termasuk yang paling jumbo. (Lihat grafik di bawah ini.)

Sebelumnya, nilai utang pemerintah pada akhir Maret 2023 naik Rp17,39 triliun dari posisi akhir Februari 2023 sebesar Rp7.861,68 triliun dengan rasio 39,09% terhadap PDB.

Januari 2023, utang pemerintah tercatat Rp 7.754,9 triliun, sementara di bulan Februari angka utang luar negeri RI mencapai Rp5.881,4 triliun.

Hingga akhir April 2023, utang RI telah meningkat Rp12,88 triliun dibanding bulan sebelumnya.

Adapun menurut proyeksi Statista, utang Indonesia diperkirakan akan terus meningkat antara 2023 hingga 2028 sebesar USD221,2 miliar atau meningkat 38,77%. Utang ini diperkirakan akan mencapai USD791,73 miliar pada 2028 atau setara Rp11.880,7 triliun (kurs Rp 15.006 per USD).

Indikator ini menggambarkan utang bruto pemerintah umum yang terdiri dari semua kewajiban yang memerlukan pembayaran atau pembayaran bunga dan/atau pokok oleh debitur kepada kreditur.

Menurut laporan Kementerian Keuangn, per akhir April 2023, profil jatuh tempo utang Indonesia terbilang cukup aman dengan rata-rata tertimbang jatuh tempo atau average time maturity (ATM) di kisaran 8 tahun.

Hingga akhir April 2023, pemerintah juga melakukan penarikan pinjaman luar negeri (bruto) sebesar Rp30,17 triliun dan pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar negatif Rp27,09 triliun.

Adapun realisasi pembiayaan utang per akhir April 2023 mencapai Rp243,88 triliun atau 35% dari target.

Beberapa faktor menentukan berapa banyak utang yang dapat ditanggung suatu negara sebelum bebannya menjadi terlalu berat.

Daya dukung utang suatu negara bergantung pada beberapa faktor di antaranya kualitas institusi dan kapasitas pengelolaan utang, kebijakan, dan fundamental ekonomi makro.

Secara makro, kondisi Indonesia masih jauh lebih baik di mana perekonomian masih bertumbuh sepanjang kuartal pertama tahun ini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Q1 2023 masih di kisaran 5,03% yoy. Meski sedikit, angka ini terbilang meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebelumnya sebesar 5,01% yoy.

Meski demikian, IMF memperingatkan, kapasitas suatu negara untuk menanggung utang dapat berubah dari waktu ke waktu, karena juga dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi global.***