Kisruh Dugaan Asusila di Desa Plered, Apdesi Purwakarta Minta Kades Jangan Giring Opini Berlebihan

Kisruh Dugaan Asusila di Desa Plered, Apdesi Purwakarta Minta Kades Jangan Giring Opini Berlebihan
Lihat Foto

WJtoday, Purwakarta - Asosiasi Perangkat Desa Indonesia (Apdesi) Purwakarta menyesalkan kisruh panjang yang terjadi di Desa Plered, Kecamatan Plered, Purwakarta akibat dugaan asusila.

Ketua DPC Apdesi Kabupaten Purwakarta, Tatang Taryana menyebut persoalan itu tercipta akibat ulah dari kepala desa yang tidak memahami aturan dalam menjalankan jabatannya.

Padahal jabatan kepala desa sendiri sudah diatur dalam peraturan pemerintahan dan ada norma-norma yang harus dijaga, dan tabu bila dilakukan karena bertentangan dengan norma agama dan masyarakat dalam lingkup moralitas.

“Kami berharap jangan terjadi lagi hal yang demikian, yang mungkin saja dilakukan oleh teman-teman kepala desa yang lainnya,” ujar Tatang dikutip dari tvberita, Minggu (24/9/2023).

Ia menegaskan bahwa jabatan kepala desa jangan diasumsikan bisa melakukan segala hal. Apalagi sampai digiring kepada kepentingan pribadi, karena semua ada alur dan batasannya.

“Utamakan kepentingan umum, kepentingan masyarakat, bukan kepentingan diri sendiri apalagi berujung kepada permasalahan yang bisa berakibat buruk dan dipandang negatif oleh masyarakat,” jelasnya.

“Apalagi sampai mengorbankan masyarakat, jangan sampai terjadi hal itu, dari kejadian ini saya harapkan kita sama-sama melakukan introspeksi jabatan dan jangan sampai terulang hal seperti ini, dan hal-hal negatif lainnya yang bisa menggiring opini berlebihan sehingga menjadi polemik yang panjang,” sambung dia.

Ia mengajak senua pihak bisa membangun desa dengan pemikiran positif, agar kemakmuran yang dicita-citakan bisa dirasakan manfaatnya oleh semua masyarakat.

“Mari kita bangun desa, kita bangun masyarakat dengan kegiatan dan pemikiran yang positif, sehingga hasilnya pun akan menjadi kenyamanan dan kemakmuran yang bisa dirasakan oleh masyarakat desa kita,” pungkasnya.

Blak-blakan soal Dugaan Asusila, Kades Plered-Purwakarta: Itu Ranah Pribadi

Kepala Desa (Kades) Plered, Kecamatan Plered, Purwakarta, Erik Akbar Fauzi blak-blakan ihwal persoalan perbuatan asusila yang menimpanya.

“Saya meminta maaf kepada masyarakat, itu merupakan kesalahan saya yang melakukan perbuatan yang salah di Kantor Desa Plered,” jelas Erik di hadapan warga dan tokoh masyarakat di Aula Kantor Desa Plered pada Rabu, 20 September 2023.

Namun ia menegaskan bahwa ketika itu pasangannya berinisial SI adalah istri sirihnya. Dengan kata lain, perbuatan yang dilakukan keduanya merupakan ranah pribadi.

“Walaupun SI itu sah sebagai istri saya, karena saya sudah menikah diri dengan SI, dan sejak Agustus 2023 lalu hubungan kami telah selesai dan saya pun memberikan sejumlah uang untuk SI,” ujarnya.

Sehingga ia pun merasa heran mengapa SI sengaja mem-blow up kabar ini dan membuatnya didesak mundur oleh warga.

“Kalaupun ada muncul permasalahan baru-baru ini saya juga tidak paham apa kemauan SI sehingga memunculkan polemik, ada kepentingan lain atau tidak saya tidak tahu pasti,” ungkapnya.

Kemudian soal desakan mundur, ia menegaskan bahwa hal ini menyimpang dari prosedur semestinya, karena persoalan ini merupakan urusan pribadi.

“Adanya aksi warga kemarin pun saya tidak tahu apa motivasinya ataupun siapa penggeraknya, kalaupun saya diminta mundur harus ada prosedurnya, karena ini urusan pribadi dan tidak ada kaitannya dengan hal lainnya,” pungkasnya.

Kades Plered Purwakarta Minta Maaf, tapi Curiga Ada Unsur Politis

Sebelumnya, Kepala Desa (Kades) Plered, Purwakarta Erik Akbar Fauzi yang telah berbuat asusila di kantor desa menuai reaksi keras dari masyarakat.

Warga desa melakukan aksi unjuk rasa ke Kantor Desa Plered pada Senin, 18 September kemarin. Mereka menuntut sang Kades turun dari jabatannya.

“Tuntutannya segera mundur. Karena sudah jelas alasannya, masyarakat sudah tidak kondusif, sudah tidak percaya,” kata koordinator aksi, Yayat, Selasa, 19 September 2023.

Di sisi lain, Kades Erik meminta maaf atas perbuatannya tersebut. Meski rupanya teman wanitanya berinisial SI itu adalah istri sirinya.

“Kalaupun saya dikatakan salah pasti saya terima, karena saya melakukan hubungan dengan SI di kantor desa Plered,” jelasnya.

“Walaupun status saya merupakan suami istri yang sah menurut agama, kalau dianggap salah saya terima, mungkin etikanya tidak boleh seperti itu,” sambung dia.

Meski demikian, dirinya menduga perbuatan amoralnya itu sengaja disebar oleh salah satu anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Plered untuk menjatuhkan namanya.

Sebab berdasarkan penelusurannya, sebelum isu ini mencuat, ada komunikasi melalui pesan singkat antara istri sirinya dengan pihak BPD agar berita ini tidak meluas.

“Apakah dibalik aksi ini ada unsur politik ataupun bukan, saya masih menunggu, dan saya meminta maaf secara pribadi kepada masyarakat,” pungkasnya.***