Konflik Kyrgyzstan-Tajikistan Memakan Korban Tewas Hampir 100 Orang

Konflik Kyrgyzstan-Tajikistan Memakan Korban Tewas Hampir 100 Orang
Lihat Foto

WJtoday, Jakarta - Kyrgyzstan dan Tajikistan pada Minggu (18/9) mengatakan hampir 100 orang telah tewas selama konflik perbatasan di antara kedua negara itu.

Kedua republik pecahan Uni Soviet itu bentrok karena sengketa perbatasan pada 14-16 September. Mereka saling menuding telah menggunakan tank, mortir, artileri rudal dan drone untuk menyerang pos luar dan permukiman di dekatnya.

Kyrgyzstan dan Tajikistan berbatasan dengan China, meski Tajikistan juga memilik perbatasan yang panjang dengan Afghanistan.

Perbatasan panjang yang memisahkan dua negara bekas Soviet itu menjadi sengketa. Bentrokan pada April 2021 menewaskan lebih dari 50 orang dan berpotensi memunculkan konflik yang lebih luas.

Sebagian besar konflik bermula pada era Soviet, ketika Moskow berupaya membagi wilayah di antara kelompok-kelompok yang tinggal bersama kelompok etnik lain.

Kyrgyzstan pada Minggu melaporkan tambahan 30 korban tewas, sehingga menambah jumlah korban sebelumnya yang mencapai 46 orang. Disebutkan pula bahwa sejauh ini 102 orang telah mengalami luka-luka.

Sebelumnya, Kyrgyzstan mengatakan telah mengevakuasi sekitar 137.000 orang dari daerah konflik tersebut. Pemerintah mengumumkan 19 September menjadi hari berkabung untuk mengenang para korban.

Media Kyrgyzstan, yang menyebut konflik tersebut sebagai invasi, pada Minggu melaporkan bahwa sejumlah orang yang dievakuasi sudah mulai kembali ke rumah mereka masing-masing.

Tajikistan pada Minggu juga melaporkan 35 korban tewas tanpa adanya laporan evakuasi massal.

Kementerian Luar Negeri Tajikistan mengatakan Kyrgyzstan terus melakukan kampanye media terhadapnya dan mencatat bahwa Presiden Kyrgyzstan Sadyr Japarov menggunakan istilah "musuh" untuk merujuk Taikistan dalam pidatonya pada Sabtu.

Kedua belah pihak pada 16 September menyepakati gencatan senjata, sebagian besar masih berlangsung meski ada sejumlah dugaan penembakan.

Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara dengan Presiden Japarov dan Presiden Tajikistan Emomali Rakhmon pada Minggu, menurut Kremlin.

Putin menawarkan bantuan dan mendesak keduanya agar mencegah eskalasi lebih lanjut dan mengambil sejumlah langkah solusi "melalui cara diplomatik, politik dan damai secara eksklusif secepat mungkin", kata kantor Putin dalam pernyataan.

Sumber: Reuters