Mengenal 'Duck Syndrome', Ketika Berusaha Terlihat Bahagia Saat Sedih

Mengenal 'Duck Syndrome', Ketika Berusaha Terlihat Bahagia Saat Sedih
Lihat Foto

WJtoday, Jakarta - Istilah duck syndrome ditemukan pertama kali di Universitas Stanford yang dimana kondisi ini menggambarkan seseorang yang sebenarnya sedang tertekan oleh banyaknya masalah, tetapi terlihat baik-baik saja dari luar. 

Bagi Anda yang saat ini sedang berusaha terlihat baik-baik saja, tetapi kenyataannya berbanding terbalik, mungkin saja Anda mengalami sindrom ini. 

Melansir Stanford, hal ini diumpamakan seperti bebek yang tenang meluncur di air mancur. Kenyataannya, adalah harapan yang tidak realistis untuk memiliki segalanya secara bersamaan setiap saat. 

Hal seperti itu kerap kali terjadi dalam unggahan media sosial yang seolah menipu dengan mengunggah foto atau video yang terlihat ceria atau baik-baik saja. Setiap orang akan mengalami pasang surut kehidupan, tetapi terkadang orang dapat menyaring apa yang ingin diperlihatkan oleh orang lain. 

Melansir dari PsychCentral, tanda dan gejala duck syndrome antara lain: 
- membandingkan diri dengan orang lain 
- merasa orang lain lebih baik 
- merasa seolah-olah Anda gagal memenuhi tuntutan hidup 
- takut akan pengawasan atau kritik - merasa orang lain memanipulasi situasi untuk menguji kinerja Anda 
- duck syndrome dapat memicu kondisi kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan atau gejala kesehatan mental lainnya. 

Faktor lingkungan keluarga yang terlalu menekankan Anda atas pencapaian atau dibesarkan oleh pengasuh juga berkontribusi terhadap adanya duck syndrome ini. 

Adapun langkah-langkah yang dapat membantu diri Anda untuk mengatasi duck syndrome, meliputi: 

1. Terapi 
Jika Anda merasa bahwa masalah atau tuntutan hidup yang Anda terima terlalu berat, pergi ke psikoterapis dapat membantu Anda dalam melalui duck syndrome. 
2. Pengobatan 
Anda dapat mengonsumsi obat antidepresan atau obat anti-kecemasan untuk membantu meringankan gejala yang terkait dengan duck syndrome. Namun, ada baiknya untuk konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter akan hal ini. 

3. Perawatan diri
Dalam hal ini, penting bagi Anda untuk tidak perlu berpura-pura akan kondisi Anda yang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Anda dapat menerapkan strategi perawatan diri untuk mengatasi hal ini, seperti memberikan perhatian penuh pada diri sendiri, menetapkan batasan, mempelajari keterampilan manajemen waktu, berbicara dengan orang yang dicintai, dan belajar untuk menetapkan tujuan yang SMART. ***