Pemkab Karawang Waspadai Penyimpangan Distribusi Sebabkan Harga Telur Alami Kenaikan

Pemkab Karawang Waspadai Penyimpangan Distribusi Sebabkan Harga Telur Alami Kenaikan
Lihat Foto

WJtoday, Karawang - Pemerntah Kabupten (Pemkab) Karawang melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan masih mengkaji dan mengamati penyebab kenaikan harga telur ayam yang dialami pedagang di sejumlah pasar tradisional di wilayahnya dalam kurun sepekan terakhir ini. 

Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Karawang Geri Samrodi mengatakan, peningkatan harga telur ayam itu sudah dialami sepekan ini di 17 pasar tradisional. 

Kenaikannya bervariasi, dengan harga telur tertinggi mencapai kisaran Rp31 ribu hingga Rp33 ribu per kilogram.

"Sampai sekarang ini kami masih mengamati dan mengkaji apakah kenaikan harga telur ayam itu akibat ada penyimpangan distribusi, atau ada penyebab lain," jelasnya.

Ia mewaspadai kemungkinan adanya penyimpangan distribusi telur ayam. Karena jika itu penyimpangan, maka jatah yang seharusnya masuk ke Karawang tapi dibelokkan ke wilayah luar kabupaten.

Dia mengatakan, kondisi tersebut tentunya berdampak kenaikan harga karena wilayah Karawang mengalami kekurangan pasokan telur. 

Harga Terus Melambung, Sejumlah Pedagang Memilih Tutup Lapak
Sejumlah pedagang telur ayam di Pasar Johar Karawang memilih menutup lapak jualannya setelah harga terus melambung. 

Hingga Kamis (25/8) harga telur ayam di Pasar Johar tembus diangka Rp 33 Ribu. Pedagang mengaku bingung jika terus berdagang karena kenaikan harga yang terus berlanjut.

"Kami bingung kenapa harga terus naik setiap hari. Pembeli banyak yang komplain karena harga terus berubah naik. Bukannya untung kita malah rugi karena pembeli banyak yang batal membeli," kata Amos (50), salah satu pedagang telur ayam di Pasa Johar, Kamis (25/8).

Menurut Amos, setelah terjadi beberapa kali naik harga, dirinya terpaksa menutup toko karena sudah merugi. Sejumlah pedagang lain juga akhirnya ikut menutup toko karena harga telur ayam terus melambung. 

"Kenaikannya sudah tidak normal dan merugikan pedagang. Menutup toko merupakan bentuk putus asa kita melihat kenaikan harga telur," jelasnya. 

Amos mengatakan, akibat kenaikan harga telur omset dagangannya menjadi menurun drastis. Biasanya omset dagangannya sekitar 3 kuintal dalam satu hari. Namun sejak kenaikan harga omsetnya menjadi 100 kilogram dalam seminggu. 

"Sudah sulit kami jualan kalau harga tidak kembali normal," sebut Amos.

Menurut dia, pemerintah harusnya segera turun tangan menurunkan harga telur hingga ke harga normal sebesar Rp 25 ribu perkilogramnya. Jika harga tidak turun dia memastikan akan banyak pedagang yang tutup.   ***