Pilpres 2024 dan Pengaruh Besar King Maker yang Tidak Pernah Memperlihatkan Diri

Pilpres 2024 dan Pengaruh Besar King Maker yang Tidak Pernah Memperlihatkan Diri
Lihat Foto

WJtoday, Bandung - Pemilu masih dua tahun lagi, tetapi panasnya kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 sudah mulai memanas.

Berbagai partai politik mulai melakukan berbagai manuver, puluhan survei bahkan sudah dilakukan untuk melihat elektabilitas para politisi.

Panasnya Pilpres 2024 ini menurut pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali sudah berlangsung sejak awal tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo di periode kedua.

"Saya mau melihat dari sisi Pak Jokowi, perang itu tak dimulai hari ini saja, sebetulnya yang agak aneh dari Pemerintah Pak Jokowi itu, Pak Jokowi dilantik 20 Oktober 2019," ungkap Effendi Gazali, dikutip dari suara.com, Sabtu (24/9/2022).

"Tapi setahun kemudian sudah ada lembaga survei yang mengukur calon presiden 2024, harusnya Pak Jokowi menanyakan seperti yang ditanyakan Pak SBY, 'Jahat Bukan'?" dia melanjutkan.

Menurutnya harusnya yang mengeluh soal survei dan perang Pilpres adalah Jokowi karena baru saja menjabat satu tahun namun sudah ada survei elektabiltias.

"Harusnya yang lebih dulu mengucapkan jahat bukan kan pak Jokowi bukan SBY," imbuhnya lagi. 

Kendati demikian, Effendi menyebutkan Jokowi adalah politisi yang sulit ditebak. Dia bahkan menyebut ada kemungkinan Jokowi menjadi salah satu King Maker. 

King Maker dalam Pilpres sendiri adalah seseorang yang menjadikan orang lain presiden/pemimpin. 

"Sebagai pembalasan terhadap yang tadi dia mulai menjadi King Maker yang sangat sulit dibaca, Forula E Anies dia datang, dengan Prabowo dia kemana mana, dengan Puan juga hayo," ucap Effendi.

"Ke semua sangat baik jadi sulit diduga, dia King Maker tanpa memperlihatkan diri sebagai King Maker," imbuhnya.

Selain Jokowi, ada dua tokoh lain yang berpotensi jadi King Maker yakni Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketum Nasdem Surya Paloh. 

Jokowi Effect
Pengamat komunikasi dan politik Universitas Airlangga Surabaya, Suko Widodo, menilai, pengaruh Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih sangat besar yang ditandai dengan masih adanya fenomena "Jokowi Effect" seperti halnya 10 tahun lalu. Pernyataan Suko merujuk pada kegiatan relawan Sapulidi.

"Saat kegiatan relawan 'Sapulidi' itu menunjukkan masih ada fenomena 'Jokowi Effect' seperti peristiwa 10 tahun lalu ketika Pak Jokowi maju pemilihan presiden," kata Suko Widodo di Surabaya, Senin (22/8).

Menurut ia, Jokowi masih mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pusaran politik di Indonesia, meskipun tidak bisa lagi mencalonkan diri sebagai presiden pada Pilpres 2024. 

Sementara mengenai pernyataan ojo kesusu (jangan buru-buru) dari Jokowi, menurut Sukowi (sapaan akrab Suko Widodo), memperlihatkan bahwa Jokowi masih bisa mengendalikan relawan atau massa pendukungnya.

"Kata-kata ojo kesusu memperlihatkan bahwa Pak Jokowi masih bisa mengendalikan massa atau relawan. Acara tersebut sebagai bentuk show off force dari Pak Jokowi," tutur dosen FISIP Unair itu.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta relawan untuk santai mawon (santai saja) dan ojo kesusu memikirkan calon presiden tahun 2024. "Banyak yang bisik-bisik ke saya, 'Pak niki dukung sinten nggeh? (pak ini dukung siapa ya?), lalu saya jawab santai mawon, ojo kesusu. Ojo nganti keliru (jangan sampai salah)," ujar Jokowi dalam sambutannya saat menghadiri kegiatan relawan "Sapulidi" di Surabaya, Minggu (21/8).

Kegiatan bertajuk "2024 Satu Komando Ikut Pak Jokowi" diselenggarakan di Stadion Gelora 10 November Surabaya, yang dihadiri ribuan massa. Menurut Jokowi, Pemilihan Presiden 2024 masih jauh sehingga tidak perlu ditentukan sekarang.

"Yang penting sekarang urusan ekonomi diselesaikan dulu secara bersama-sama," ujarnya.

Jokowi meminta para relawan untuk selalu menjaga silaturahim, bersatu dan kompak agar tidak keliru menentukan pemimpin pada masa depan.

Tak Ada Petahana, Pilpres 2024 Bakal Lebih Panas
Kontestasi Pemilihan Presiden 2024 diprediksi lebih panas dan kompetitif dibanding Pilpres 2019. Pendiri lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA mengatakan, hal itu disebabkan oleh seimbangnya persaingan antarkandidat dan adanya pertarungan ideologis antara empat kelompok ideologi. 

"Ketika semuanya lebih seimbang dengan aroma pertarungan ideologis maka gonjang-ganjing politik akan jauh lebih heboh," kata Denny dalam konferensi pers du Kantor LSI Denny JA, Selasa (2/7).

Denny menuturkan, seimbangnya persaingan antarkandidat disebabkan oleh tidak adanya calon yang berstatus petahana. Menurut Denny, hal itu membuat tidak ada kandidat yang mempunyai modal lebih. 

"Yang nanti bertarung ini adalah calon-calon yang lebih seimbang, tidak ada lagi incumbent, petahana tak lagi ikut, Jokowi tak lagi ikut," kata Denny.

Sebelumnya, Denny menyebut kontestasi Pilpres 2024 akan diwarnai pertarungan antara empat ideologi yakni ideologi politik reformasi, ideologi Islam Politik, ideologi 'kembali ke UUD 1945 yang asli', serta ideologi Hak Asasi Manusia. 

Menurut Denny, pertarungan keempat ideologi itu sudah mulai terjadi sejak pilpres 2019 dan dapat terus memuncak hingga pilpres 2024 mendatang. 

"Pilpres 2024 akan semakin ramai karena empat ideologi itu kembali bertarung. Bisa jadi keempat-empatnya lebih kuat, lebih punya pengalaman," sebutnya.  ***