Renungan Jumat

Puasa Mutih, Apa Hukumnya dalam Islam?

Puasa Mutih, Apa Hukumnya dalam Islam?

WJtoday, Jakarta - Dalam Islam, puasa menjadi salah satu amalan yang bisa dikerjakan. Bahkan puasa di bulan Ramadan hukumnya wajib. 

Lantas bagaimana dengan puasa mutih?

Puasa mutih kerap dijalani oleh sebagian orang. Puasa ini biasanya dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan diri, melatih diri untuk menahan hawa nafsu dan juga kerap dilakukan oleh orang yang memiliki hajat.

Perintah mengerjakan puasa termaktub dalam Al-Qur'an surah Al Baqarah ayat 183. Allah SWT berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ١٨٣

Artinya: Kepada orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan (juga) kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Mengutip Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan ibadah puasa bisa menjadi amalan untuk menyucikan tubuh serta mempersempit jalan-jalan setan. 

Hal ini sebagaimana disebutkan melalui kitab hadits Sahihain,

"يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ"

Artinya: "Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu memberi nafkah, maka kawinlah; dan barang siapa yang tidak mampu (memberi nafkah), hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa merupakan peredam baginya."

Hukum Puasa Mutih dalam Islam

Merangkum buku Sejarah Kesultanan Melayu Sanggau oleh Dr. Abang Ishar AY, M.Sc dijelaskan puasa mutih biasanya dilaksanakan selama 40 hari.

Puasa mutih adalah puasa di luar kaidah yang ditentukan dalam Islam, puasa ini hanya bertujuan mengosongkan perut supaya tidak kenyang atau lapar.

Puasa ini diawali dengan makan sekepal nasi saat malam hari atau di waktu sahur. 

Biasa juga menyantap tujuh kepal nasi putih tanpa campuran sayur-sayuran dan lauk pauk. 

Kemudian saat berbuka juga hanya memakan tujuh kepal nasi saja.

Selain menahan lapar, puasa mutih juga diiringi dengan bertawasul yakni membaca Surat Al Fatihah di malam hari selama 40 hari berturut-turut.

Amalan lain yang juga dikerjakan saat puasa mutih adalah dzikir dan membaca shalawat. Orang-orang yang menjalani puasa mutih kerap mengasingkan diri dari keramaian.

Dalam syariat, tidak ada anjuran ataupun penjelasan tentang puasa mutih. 

Dalil dalam Al-Qur'an maupun hadits Rasulullah SAW juga tidak menjelaskan secara eksplisit tentang puasa mutih.

Ibadah puasa merupakan amalan yang bisa dikerjakan untuk melatih keimanan, sudah sepatutnya dilakukan hanya bertujuan untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

Ada banyak hadits yang menjelaskan keutamaan puasa. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Allah 'Azzawajalla berfirman -dalam hadits qudsi: "Semua amal perbuatan anak Adam-yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya. Puasa adalah sebagai perisai -dari kemaksiatan serta dari neraka. Maka dari itu, apabila pada hari seseorang diantara engkau semua itu berpuasa, janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seorang atau dilawan dengan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya saya adalah -sedang- berpuasa."

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan: Allah berfirman dalam hadits qudsi: "Orang yang berpuasa itu meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena taat pada perintahKu Allah. Puasa adalah untukku (Allah) dan Aku akan memberikan balasannya, sedang sesuatu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat gandanya."***