RI KLB Polio, Kenali Gejala, Penyebab, hingga Cara Mencegahnya

RI KLB Polio, Kenali Gejala, Penyebab, hingga Cara Mencegahnya
Lihat Foto

WJtoday, Jakarta - Temuan kasus pasien polio di Kabupaten Pidie, Aceh, membuat pemerintah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB). Pasien tersebut terindikasi polio setelah mengalami gejala demam pada 6 Oktober 2022. Dari informasi, pasien itu tidak pernah mendapat imunisasi sebelumnya.

Penjabat Bupati Pidie Wahyudi Adisiswanto mengatakan, keluhan pasien dibarengi dengan kelemahan anggota gerak. Pasien akhirnya dibawa ke RS Teungku Chik di Tiro Sigli. Kemudian, sampel tinja anak diambil untuk dianalisis di laboratorium Prof Sri Oemijati, Jakarta.

"Setelah pemeriksaan fisik dan laboratorium diketahui bahwa pasien terinfeksi virus polio," kata Wahyudi dalam konferensi pers, Jumat (18/11/2022).

Pemerintah Tetapkan KLB Polio!

Pemerintah tiba-tiba menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) polio di Indonesia. Penetapan KLB polio itu dilakukan setelah satu kasus baru ditemukan di Pidie, Aceh.

Ketetapan KLB diberlakukan lantaran bahaya polio bisa memicu kelumpuhan permanen bahkan hingga kematian. Khususnya bagi anak berusia di bawah lima tahun yang belum divaksinasi polio.

Kepala Biro Komunikasi Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi menyebut status polio sebelumnya memang sudah eradikasi. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk kembali ditetapkan KLB jika ditemukan kembali satu kasus terinfeksi polio.

"Memang sudah eradikasi tapi kalau satu kasus jadinya disebut KLB," sebut dr Nadia.

dr Nadia belum memastikan penyebaran kasus polio. Informasi lanjutan disebutnya bakal disampaikan pada konferensi pers Kejadian Luar Biasa Polio di Indonesia Sabtu (19/11/2022) 10.00 WIB.


30 Provinsi Ini Masuk Risiko Tinggi Menurut WHO

Menurut analisis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada tiga puluh provinsi yang masuk dalam kategori high risk atau berisiko tinggi penyebaran virus polio. Empat provinsi yang dikecualikan dari kategori tersebut meliputi:
- Jambi
- Banten
- Bali
- DI Yogyakarta.

"Anak itu mengecil pada bagian otot paha dan betis, dan memang tidak ada riwayat imunisasi ya, [tidak] memiliki riwayat perjalanan kontak dan perjalanan ke luar," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan dr. Maxi Rein Rondonuwu dalam konferensi pers, Sabtu (19/11/2022).

Padahal, Indonesia sudah 'bebas' polio sejak delapan tahun lalu, mendapatkan sertifikat resmi dari WHO di 2014. Kemungkinan pemicu virus kembali muncul adalah rendahnya cakupan vaksinasi. Menurut Maxi, terjadi penurunan tren cakupan imunisasi OPV dan IPV di Aceh dalam 10 tahun terakhir.

Faktor kedua adalah perilaku berisiko di masyarakat, tim Kemenkes menemukan sejumlah penduduk yang masih memiliki kebiasaan buang air besar ke sungai. Sungai menjadi sumber aktivitas termasuk tempat bermain anak.

"Jadi perilaku buang air sembarangan itu punya potensi jadi kemungkinan penularannya. Faktor risiko yang paling kami lihat ada di sini," kata Maxi.

Karenanya, pemerintah langsung merencanakan vaksinasi polio serentak yang akan diadakan 28 November mendatang.

Kenali Polio! Gejala, Penyebab, hingga Cara Mencegahnya

Poliomyelitis atau Polio  adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Polio. Penyakit ini menyerang fungsi sistem saraf sehingga pengidapnya akan mengalami kelumpuhan dalam hitungan jam atau bahkan kematian.

Siapa pun punya potensi mengidap penyakit ini. Namun umumnya, kasus polio ditemukan pada anak-anak di bawah usia lima tahun, terutama bagi mereka yang belum mendapatkan vaksin polio.

Baru-baru ini, kasus polio di Indonesia kembali ditemukan pada anak berusia tujuh tahun yang berdomisili di Pidie, Aceh. Diketahui, anak tersebut mulanya mengalami gejala demam dan tiga hari kemudian mendadak lumpuh. Menyoroti hal tersebut, pemerintah pun kembali menetapkan Polio sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Penyebab Polio

Virus polio adalah penyebab utama dari penyakit paralisis ini. Ia berevolusi di usus, kemudian dikeluarkan melalui feses orang yang terinfeksi.

Tak menutup kemungkinan virus ini bisa menyebar melalui udara dan mengontaminasi makanan di sekitarnya bila sanitasi di lingkungan tersebut buruk. Meski jarang terjadi, virus polio juga dapat menyebar melalui batuk dan bersin.

Selain itu, terdapat kondisi yang mendukung seseorang lebih mudah terserang virus polio, yakni:
- Ibu hamil
- Pengangkatan amandel (tonsilektomi)
- Cedera saat olahraga
- Suntikan intramuskular

Gejala Polio

Kebanyakan pengidap polio awalnya tidak mengetahui bahwa mereka telah terinfeksi karena merasa baik-baik saja dan tidak mengalami gejala tertentu. Walaupun begitu, satu dari empat orang setidaknya mendapati kondisi layaknya flu. Hal ini meliputi:
- Sakit tenggorokan.
- Demam.
- Kelelahan.
- Mual.
- Sakit kepala.
- Sakit perut.

Gejala tersebut akan bertahan selama 2-5 hari dan mereda dengan sendirinya. Namun, daya tubuh yang lemah mengakibatkan seseorang mengalami gejala lebih parah terkait fungsi otak dan saraf sumsum tulang belakang, seperti infeksi selaput otak (meningitis) serta kelumpuhan.

Jenis-jenis Polio

Tidak selamanya pasien polio mengalami kelumpuhan di waktu dekat. Pada kasus tertentu, anak-anak dengan polio mengalami kelumpuhan ketika sudah beranjak dewasa ataupun hanya memiliki gejala ringan saja. Berikut ini tiga jenis polio sesuai dengan ciri-cirinya:

Polio non paralisis

Polio non paralisis atau poliomielitis abortif adalah jenis polio yang tidak menyebabkan kelumpuhan. Jenis ini hanya menimbulkan gejala flu selama beberapa hari. Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:
- Sakit tenggorokan.
- Nyeri otot di punggung dan leher.
- Demam
- Pusing disertai kelelahan.
- Muntah
- Otot lengan dan tungkai terasa kaku.
- Meningitis.

Polio paralisis

Polio paralisis tergolong jenis kronis dan fatal. Sebab, virus ini merusak dan menghancurkan saraf motorik yang berada di sumsum tulang belakang, batang otak, dan korteks motorik otak. Ciri-cirinya bermula dari polio nonparalisis, tetapi berkembang menjadi:
- Nyeri otot yang parah hingga kejang otot.
- Rangsangan otot berkurang atau tidak bekerja sama sekali.
- Kaki dan tangan sulit digerakan.
- Otot tungkai tidak berfungsi dengan normal di satu sisi.

Sindrom pascapolio

Sindrom pascapolio terjadi ketika penyintas polio dengan usia anak-anak mengalami kembali hal tersebut di saat dewasa. Jenis ini hampir memengaruhi 64 persen dari total pasien polio dan sering terjadi setelah 35 tahun pengidapnya terinfeksi. Berikut adalah ciri-cirinya:
- Kesulitan menelan dan bernapas.
- Penyusutan jaringan otot (atrofi).
- Nyeri sendi dan otot secara bertahap.
- Gangguan tidur (apnea)
- Mudah lelah tanpa aktivitas fisik yang berat.
- Sensitif terhadap suhu dingin.
- Kesulitan konsentrasi.
- Perubahan suasana hati dan gampang depresi.

Pengobatan Polio

Hingga kini, belum ada pengobatan yang tepat guna menyembuhkan polio. Hanya saja, kondisinya dapat direda dengan perawatan jangka panjang secara masif, misalnya pemberian terapi fisik, obat penghilang rasa sakit, atau pembedahan.

Pencegahan Polio

Cara terbaik untuk menghindari virus polio adalah vaksin dan menjaga sanitasi diri serta lingkungan dengan baik. Vaksin Virus Polio Oral (OPV) adalah jenis vaksin yang diterapkan pada banyak negara, termasuk Indonesia.

Dengan demikian, dokter menganjurkan para orang tua memberikan vaksin polio rutin kepada ana-anak ketika berumur 8,12, dan 16 minggu. Sebagai penguat imun tubuh, booster polio dapat diberikan ketika umurnya 3-14 tahun.***