Ribuan Massa Aksi Protes Mobilisasi Parsial Rusia Ditahan

Ribuan Massa Aksi Protes Mobilisasi Parsial Rusia Ditahan
Lihat Foto

WJtoday, Jakarta - Presiden Rusia, Vladimir Putin sebelumnya mengeluarkan kebijakan Mobilisasi Parsial untuk meningkatkan kekuatan militernya melawan Ukraina.

Kemudian, dikatakan bahwa Rusia akan merekrut sebanyak 300 ribu orang yang disebut sebagai tentara cadangan, untuk diterjunkan ke medan perang.

Hal tersebut kemudian memancing amarah publik, warga Rusia di seluruh wilayah pun turun ke jalan untuk mengekspresiken sikap penolakannya terhadap kebijakan tersebut.

Kini, dari informasi terbaru milik Outlet Hak Asasi Manusia Independen milik Rusia dikutip Sabtu (24/9/2022), terungkap bahwa pihak keamanan Rusia saat ini telah menahan sebanyak 1336 orang dalam masa waktu 21-22 September 2022.

Dari data yang dirilis sebelumnya menyatakan bahwa protes atas kebijakan Putin terjadi di 42 kota di seluruh negeri, termasuk protes di desa-desa kecil, seperti hal nya di Republik Dagestan.

Jumlah warga yang ditahan tersebut merupakan data terbaru, dimana pada Rabu (21/9) waktu setempat, baru sebanyak 1330 warga yang ditahan pihak keamanan.

Kemudian angka jumlah penahanan bertambah keesokan harinya, dan kini 1336 orang telah diamankan.


Mobilisasi Parsial Siap Sasar Komunitas Etnis Non-Rusia dan Imigran

Kebijakan Mobilisasi Parsial yang digaungkan Vladimir Putin untuk memperkuat militernya di medan perang melawan Ukraina, diklaim siap menyasar atau merekrut komunitas etnis non-Rusia dan Imigran.

Dilansir dari ISW, Sabtu (24/9/2022), diklaim bahwa kemungkinan besar Kremlin akan memobilisasi komunitas etnis non-Rusia dan Imigran pada tingkat yang tidak proporsional.

Kirill Kabanov selaku anggota Dewan Hak Asasi Manusia Rusia mengusulkan bahwa, wajib militer juga ditujukan bagi imigran Asia Tengah yang telah menerima kewarganegaraan Rusia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Selain itu Kirill juga dikatakan telah menyampaikan sebuah ancaman bahwa, akan mencabut kewarganegaraan Rusia mereka jika menolak kebijakan Mobilisasi Parsial.

Mengenai hal ini, laporan lain sebelumnya menjelaskan bahwa telah ada perekrutan sebanyak 700 orang dari total populasi 5.500 penduduk Kurumkan, sebuah desa di Republik Buryatia.

Disebutkan, apabila laporan tersebut akurat, maka menunjukan bahwa Rusia telah memobilisasi sekitar 25 persen dari populasi laki-laki dari satu desa di distrik Buryat tersebut.

Kemudian ada pun laporan yang menyebut daftar perekrutan mobilisasi parsial dari Tuapse, Krasnodar Krai yang dilaporkan terdiri dari 90 persen penduduk etnis Armenia.***