Tingkat Kematian Karena TBC Lebih Tinggi Ketimbang Covid-19

Tingkat Kematian Karena TBC Lebih Tinggi Ketimbang Covid-19
Ilustrasi (cnnindonesia.com)

WJtoday, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyayangkan, isu tuberkulosis (TBC) tertutup persoalan pandemi Covid-19. Padahal, tingkat kematian akibat TBC sebenarnya lebih tinggi ketimbang Covid-19.

“Apesnya, kasus TBC keluar yang tinggi hanya di India dan Indonesia, sedangkan negara-negara lain tidak. Kalau TBC bisa di-reset, keluarnya sesudah Covid-19 dan mendapatkan perhatian seperti Covid-19 mungkin bisa lebih cepat selesainya,” ucapnya dalam diskusi virtual, Kamis (9/9/2021).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan pedoman strategi penanganan Covid-19. Yaitu, menerapkan protokol kesehatan (3M/mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker), 3T (testing, tracing, treatment), program vaksinasi, dan terapeutik. 

Menurut Budi, empat strategi penanganan Covid-19 itu dapat digunakan untuk kasus TBC. Infrastruktur kesehatan, tenaga kesehatan untuk 3T, hingga sistem pelaporan Covid-19 dapat pula digunakan untuk kasus TBC.

Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut saat ini masih menangani berbagai penyakit secara parsial.

“Banyak platformnya, orang yang bekerja TBC ya TBC. Saya melihat tuh ada 115 aplikasi mesti diisi oleh orang puskesmas, karena direktur TBC memiliki aplikasi sendiri, direktur Covid-19 punya aplikasi sendiri, direktur darah tinggi punya, direktur stroke punya, akibatnya menjadi bingung,” tutur Budi.

Ia berharap, penanganan semua jenis penyakit dapat terintegrasi dengan bertumpu pada perbaikan gizi pasien. Di sisi lain, 3T dalam penanganan TBC masih sangat rendah. Bahkan, kasus TBC yang terdeteksi setiap tahun jauh sekali dari target.

“Yang terdeteksi TBC itu jauh sekali dari apa yang bisa kami kejar, dibandingkan dengan Covid-19 yang kami tahu setiap hari berapa yang dites.TBC itu hanya dapat kami estimasi setiap tahun. Artinya, kita bedakan Covid-19 itu setiap hari datanya di sini, eror, ditutup-tutupin sedikit, tetapi kami tahu angkanya setiap hari. Tetapi kalau TBC, kami estimasi setiap tahun, itu sesuatu hal yang lucu sebenarnya,” ujar Budi.

Baca juga: Gejala Mirip Covid-19, Tuberkulosis Fenomena Gunung Es Indonesia

Sebelumnya, Kemenkes melaporkan, jumlah kematian akibat tuberkulosis (TBC) selama pengobatan mencapai 12.800 kasus pada 2020. Adapun jumlah kasus TBC biasa di Indonesia diprediksi sebanyak 845.000 kasus.

Selain itu, terdapat 24.000 kasus TBC resisten, yang terjadi karena pasien tidak konsisten menjalani pengobatan sebelum enam bulan. Namun, Kemenkes hanya menemukan 349.000 kasus TBC biasa, 8.060 kasus TBC resisten, dan 8.000 kasus TBC bagi pasien HIV.

"Sebenarnya insiden tuberculosis pada 2019 itu pada angka 316 (per 100.000 penduduk), kemudian di Global TB Report itu 312 per 100.000 penduduk. Ini menjadi tantangan karena pada 2020 ini kami hanya menemukan kurang lebih 30% dari kasus," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, dalam telekonferensi, Selasa (23/3). 

"Yang artinya, jangan-jangan insiden kita di tahun 2021 atau 2022 kembali menjadi meningkat." sebutnya.  ***