Update Covid-19 Nasional: 1.904 Kasus Baru, 3.077 Sembuh, 20 Meninggal

Update Covid-19 Nasional: 1.904 Kasus Baru, 3.077 Sembuh, 20 Meninggal
Lihat Foto

WJtoday, Bandung - Update perkembangan Covid-19 di Indonesia  dilaporkan bertambah 1.904 kasus baru, Jumat (23/9/2022). Dengan demikian total kasus telah mencapai 6.419.394 selama pandemi berlangsung.

Jumlah tersebut adalah hasil tracing melalui pemeriksaan sebanyak 59.576 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Berdasarkan pantauan data dari laman resmi Kementerian Kesehatan, dilaporkan pula terdapat 3.077 pasien sembuh hari ini, sehingga total telah mencapai 6.239.098 atau sebesar 97,2 persen.

Sedangkan pasien meninggal dilaporkan sebanyak 20 orang, sehingga total telah mencapai 157.986, atau 2,5 persen pasien kehilangan nyawa terdampak penyakit mematikan ini.

Dilaporkan pula kasus aktif saat ini tercatat sebanyak 22.310 atau sebesar 0,3 persen, berkurang sebanyak 1.193 kasus dibanding hari sebelumnya.

Sementara dilaporkan pula pada hari ini pasien suspek tercatat sebanyak 3.916 orang.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati meminta pemerintah untuk membuat peta jalan peralihan pandemi menuju endemi. 

Adanya peta jalan yang jelas ini akan diiringi capaian-capaian yang terukur dan kesiapan Indonesia, jika pada saatnya nanti WHO mengumumkan akhir dari pandemi Covid-19.

Kurniasih mengatakan, meski Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut akhir pandemi di depan mata. Parameternya angka kematian pekanan saat ini paling rendah sejak Maret 2020. Mengutip WHO, ia mengingatkan setidaknya ada enam kebijakan singkat untuk mengakhiri pandemi Covid-19. 

Adapun keenam kebijakan itu adalah vaksinasi, melakukan testing dan sequencing, memastikan sistem kesehatan untuk pelayanan Covid-19, mempersiapkan lonjakan kasus, melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian, serta menyampaikan informasi terkait Covid-19 kepada masyarakat.

"Beberapa kebijakan singkat tersebut bisa dielaborasi menjadi indikator khusus yang diterapkan di Indonesia mengingat situasi dan kondisi di Indonesia juga berbeda dengan negara lain." ungkap Kurniasih dalam keterangan tertulis, Senin (19/9).  ***