Usai Penyesuaian Harga BBM, Ini Sejumlah Catatan dari BRIN

Usai Penyesuaian Harga BBM, Ini Sejumlah Catatan dari BRIN
Lihat Foto

WJtoday, Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi memperoleh pembahasan serius dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Kepala Pusat Riset Ekonomi Makro & Keuangan (PR EMK) BRIN, Zamroni Salim dalam diskusi webinardengan tema “Ketahanan Energi dan Dilema Subsidi”, mengatakan, tema webinar tersebut diambil karena isu subsidi BBM sedang hangat diperbincangkan publik.

“Ketahanan energi seperti juga halnya dengan ketahanan pangan itu pada prinsipnya adalah kondisi terjaminnya ketersedian energi,” ujar Zamroni, melalui keterangannya, dikutip Sabtu (17/9/2022)

Untuk jangka panjang, lanjut Zamroni, perlu diperhatikan juga aspek lingkungan hidup, sebab, BBM adalah energi berbasis fosil yang tidak terbarukan. Oleh karenanya, dalam mengupayakan terwujudnya ketahanan energi, penting bagi kita untuk melihat inovasi energi.

“Selama ini kita sangat tergantung terhadap energi berbasis fosil bersubsidi. Sementara ketika berbicara subsidi, maka akan banyak pihak dan aktivitas ekonomi yang terkait,” ujarnya.

Ia mengatakan, subsidi bertendensi mendorong eksploitasi sumber daya alam yang berlebih. Hal itu berpotensi mengakibatkan kegagalan pasar karena keuntungan dari proses bisnis tidak dibarengi konservasi lingkungan dan energi.

Zamroni menyampaikan, hal penting lainnya dalam kaitannya dengan konsumsi BBM, adalah pemanfaatannya. Faktanya, penggunaan BBM bersubsidi yang semestinya diperuntukkan bagi yang berhak menerima, justru diterima orang atau kelompok mampu.

“Mereka yang lebih tinggi pendapatannya cenderung menggunakan BBM tersebut lebih besar daripada yang berada garis kemiskinan. Ketika pemerintah mengurangi subsidi BBM, mereka yang paling kencang suaranya adalah yang tidak berhak”.

Menurut data BPS, kelompok garis kemiskinan adalah mereka yang berpendapatan Rp 505.469 perkapita dalam sebulan. Sedangkan jumlah penduduk dengan status miskin pada semester I tahun 2022 sebanyak 26,16 juta jiwa.

Komaidi Notonegoro selaku Direktur Eksekutif Reforminer Institute menjelaskan, ekonomi dunia pada tahun 2045 akan bergeser ke Asia-Pasifik. Indonesia yang berada di wilayah ini tentu akan terdampak karena antara ekonomi dan energi tidak bisa dipisahkan.

Komaidi menyebut bahwa mesin-mesin (mobil, motor, dan lain-lain) diproyeksikan sebanyak 80% masih menggunakan BBM di tahun 2045. Oleh sebab itu, jika bicara mobil listrik masih cukup jauh capaiannya.***