Efek Buruk Suara Keras dan Kebisingan Bagi Anak Usia Dini

Efek Buruk Suara Keras dan Kebisingan Bagi Anak Usia Dini

WJtoday, Jakarta - Suara keras atau kebisingan, disebut juga polusi suara, berdampak pada pendengaran anak. Misalnya suara kembang api, senjata api, atau lantunan musik yang diputar keras-keras, juga tak baik bagi anak usia dini. 

Polusi suara berasal dari sumber tertentu, termasuk lalu lintas jalan raya, pesawat terbang dan tinggal di dekat badara, kereta api, atau suara keras lainnya bahkan suara televisi, juga bisa mengganggu. 

Berikut efek buruk suara keras dan kebisingan bagi anak usia dini.

Menyebabkan masalah pendengaran

Kebisingan lingkungan cenderung menyebabkan masalah pendengaran dibandingkan suara kerras dari perangkat pribadi, misalnya perangkat jemala atau earbuds atau earphone. Seperti suara konser musik, pertandingan olahraga, tarian, dan perayaan, digolongkan kebisingan lingkungan yang tidak terduga dan berdampak buruk pada pendengaran anak usia dini.

Dibandingkan orang dewasa, anak-anak lebih rentan terhadap kebisingan karena mereka masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Anak-anak juga kurang memiliki kendali atas suara yang mereka tangkap.

Memengaruhi cara belajar anak

Membaca, mengingat, dan mengerjakan ujian dengan baik bisa terganggu saat banyak kebisingan di lingkungan sekitar. Bahkan percakapan yang bising pun, bisa menyulitkan anak dalam memahami materi yang ia sedang pelajari. Selain itu, suara pesawat terbang yang melintas juga menyulitkan anak. Maka saat aktivitas belajar, penting menjaga lingkungan tetap tenang sehingga memungkinkan anak belajar fokus.

Mempersulit memahami pembicaraan

Bagi bayi dan anak usia dini yang sedang belajar berbicara, lingkungan yang bising mempersulit mereka memahami pembicaraan. Mereka harusnya fokus belajar bicara, tetapi karena suara sekitar yang bising, mengganggu konsentrasi mereka dalam meniru dan melakukan latihan bicara.

Memengaruhi cara anak bermain

Bermain penting dalam perkembangan anak. Banyak anak terpapar kebisingan latar suara, misalnya dari televisi yang diputar keras. Ketika televisi dibiarkan menyala ketika balita dan bayi bermain, mereka jadi tidak terlalu fokus bermain dengan mainannya.

Mengganggu tidur

Suara keras dan kebisingan seringkali mengganggu tidur. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization) dilansir Healthy Children, Rabu, 15 Mei, jutaan orang mengalami kualitas tidur yang buruk akibat kebisingan malam hari, lalu lintas jalan raya, dan sumber suara lainnya.

Penelitian yang dilakukan pada orang dewasa, menunjukkan tingkat kebisingan lingkungan malam hari yang rendah pun menyebabkan lebih banyak pergerakan tubuh, terbangun dari tidur, dan gangguan tidur lainnya. Meski sering tidak disadari saat tidur, tetapi dampak ini menyebabkan kualitas tidur rendah dan sebabkan kantuk pada siang hari sehingga aktivitas belajar anak akan terpengaruh.

Menyebabkan stres

Terlalu banyak mendengar suara keras dan kebisingan, menyebabkan tubuh seseorang bereaksi terhadap stres. Misalnya pada perawatan bayi prematur di unit perawatan intensif neonatal (NICU). Bayi yang dirawat di ruangan tersebut harus terhindar dari paparan suara alarm, telepon, ventilator, pompa, monitor, dan incubator. Karena jika terpapar suara tersebut, terjadi perubahan pada pernapasan, detak jantung, dan kadar oksigen mereka.

Kebisingan dapat meningkatkan tekanan darah pada anak-anak dan orang dewasa. Paparan suara keras dan kebisingan dalam jangka panjang, meningkatkan risiko terkena serangan jantung.

Beberapa anak dengan sensitivitas khusus, seperti gangguan spektrum autisme (ASD), gangguan hiperaktif defisit perhatian (ADHD), gangguan pemrosesan sensorik, atau perbedaan belajar, mungkin terganggu oleh suara keras atau kebisingan yang biasanya tidak mengganggu anak-anak tanpa kondisi tersebut. Meskipun butuh dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek buruk suara keras atau kebisingan bagi anak usia dini, orang tua tetap harus memastikan anak-anak tercinta tumbuh dalam lingkungan yang aman serta nyaman.***