Pandemi Covid-19 Tingkatkan Gangguan Kecemasan dan Depresi

Pandemi Covid-19 Tingkatkan Gangguan Kecemasan dan Depresi
Ilustrasi (variety.com)

WJtoday, Bandung - Depresi dan gangguan kecemasan menjadi salah satu gangguan mental yang rentan ditemui kala pandemi. Penelitian Lancet Regional Health di Amerika menemukan tekanan psikologis, depresi, dan gangguan kecemasan lazim ditemukan dalam setengah tahun terjadinya pandemi Covid-19. Selain itu, angka ini juga meningkat di masa pembatasan sosial.

Laporan ini menyebut, 42 persen orang dalam penelitian tersebut mengalami tekanan psikologis ringan selama pandemi. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2018, di mana hanya 32 persen orang yang merasakan tekanan psikologis ringan.

Tak hanya itu, sepuluh persen dari peserta penelitian juga menunjukkan adanya gangguan kecemasan dan depresi dengan tingkat sedang hingga berat. Seringkali depresi yang terjadi diakibatkan dari adanya penyakit bawaan yang diderita peserta, salah satunya kanker.

"Jika kesedihan yang dirasakan tidak dapat Anda ubah melampaui situasi yang terjadi, itu adalah depresi," ujar Pengajar Pengelolaan Stres Cynthia Ackrill beberapa waktu lalu.

Penelitian ini juga menemukan wanita lebih rentan terkena gangguan kecemasan daripada pria. sikolog Klinis dan Terapis Keluarga John Duffy menyebut hal ini terjadi karena wanita lebih banyak mengurus rumah tangga.

"Mereka tidak hanya mengelola ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan mereka, tetapi juga orang-orang di sekitar mereka," kata Duffy.

Penelitian ini juga menemukan tingkat depresi pria meningkat sebanyak 11 kali, dibandingkan wanita yang mengalami peningkatan sebanyak 6 kali.

Para peneliti mengatakan bahwa sumber stres akibat keseimbangan kerja/hidup lebih banyak membawa depresi bagi wanita, dan gangguan kecemasan pada pria. Namun, sumber stres yang terkait dengan keuangan membawa depresi bagi pria.

Para peneliti juga menghimbau pentingnya pengecekan kesehatan mental secara teratur oleh para profesional untuk mengatasi stres yang dirasakan.

Psikolog dan Pendiri AAKOMA Project Alfiee Breland-Noble mengusulkan praktik mindfulness sebagai salah satu cara mengelola stres. Ia mengusulkan pasien untuk mengidentifikasi apa yang ia rasakan, dengarkan, sentuh, hirup, dan lihat dengan panca indera yang dimiliki.

Usul lain dari Duffy, para penderita gangguan kecemasan dan depresi dapat mencoba melakukan hal-hal yang mereka nikmati sebelumnya. Mereka juga bisa menyisihkan waktu khusus untuk merawat diri, salah satunya dengan menulis jurnal, jalan-jalan, ataupun menonton acara TV favorit.  ***
(Sumber: CNNIndonesia.com)