Pentingnya Pencegahan Osteoporosis Dilakukan Sejak Dini

Pentingnya Pencegahan Osteoporosis Dilakukan Sejak Dini
Lihat Foto

WJtoday, Jakarta - Koordinator Subdirektorat Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr. Lily Banonah Rivai, M.Epid, mengatakan kesadaran dan pencegahan terkait osteoporosis penting untuk dimulai sejak dini.

"Menjaga kesehatan tulang merupakan sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen sejak dini," kata dr. Lily dalam jumpa pers virtual, Selasa (19/10/2021).

"Seiring dengan bertambahnya usia, tulang-tulang juga akan berkurang kekuatan dan kepadatannya, sehingga memang lebih berisiko kepada lansia. Tapi, kita harus memiliki kesadaran sejak dini," imbuhnya.

Lebih lanjut, dr. Lily membagikan sejumlah hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk memperkecil risiko osteoporosis, yang ternyata banyak menyerang kaum wanita tersebut.

Pertama, adalah menjalani gaya hidup sehat, aktif, dan terpapar sinar matahari. 

"Aktivitas fisik yang baik dan benar, diiringi dengan pengetahuan tentang nutrisi untuk meningkatkan kekuatan tulang dan menurunkan risiko patah tulang," sebutnya.

Selanjutnya, adalah mengkonsumsi nutrisi seimbang yang meliputi kalsium, protein, kolagen, dan vitamin D. dr. Lily mengatakan, nutrisi tersebut bisa didapatkan melalui susu, kacang kedelai, hingga sinar matahari, yang di mana semua hal tersebut bisa didapatkan di Indonesia.

Dia juga menambahkan, hal yang tak kalah penting adalah sinergi dari berbagai pihak untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya kesehatan tulang.

"Kolaborasi berbagai pihak baik pemerintah, asosiasi profesional, swasta, komunitas dan media, dalam mengedukasi masyarakat," ujar dia.

"Misalnya seperti Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (PERWATUSI), dan berbagai pihak yang giat menggalakkan dan memasyarakatkan pengendalian osteoporosis baik di pusat dan daerah," ujarnya menambahkan.

Osteoporosis sendiri masuk ke dalam kelompok penyakit tidak menular. Pemerintah melalui Kemenkes memiliki kebijakan dan program pencegahan dan pengendalian penyakit di kelompok tersebut.

"Mulai dari promosi kesehatan yang meliputi edukasi, informasi dan penyuluhan yang kemudian berimbas ke masyarakat yang semakin peduli atau increasing awareness. Selanjutnya adalah deteksi dini yang berimbas ke penemuan dini, lalu ke penanganan kasus. Langkah-langkah ini juga didukung oleh Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)," jelas dr. Lily.

Proses Osteoporosis Bisa Terjadi di Usia Muda
Proses osteoporosis bisa menyerang siapa saja bahkan di usia muda dan produktif seperti 30 tahun-an dan terkadang tak disadari penderitanya, menurut dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK.

Luciana yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) itu mengatakan, proses osteoprosis berlangsung dalam jangka panjang. Seseorang dengan kondisi ini dapat tidak menyadarinya sampai kerusakan benar-benar terjadi.

"Osteoporosis memang seringkali dikaitkan dengan orang-orang berusia lanjut, namun nyatanya bisa menyerang siapa saja, bahkan di usia muda dan produktif seperti usia 30," kata Luciana melalui siaran persnya, dikutip Rabu (20/10/2021).

Osteoporosis yakni penyakit akibat tulang kehilangan kepadatan dan akhirnya rapuh, sehingga tekanan ringan seperti membungkuk atau batuk pun dapat menyebabkan patah tulang. Fraktur atau patah tulang terkait osteoporosis paling sering terjadi di pinggul, pergelangan tangan atau tulang belakang.

Beberapa gejala atau tanda yang terjadi merupakan fraktur akibat dari osteoporosis, seperti postur bungkuk, sakit punggung, menurunnya tinggi badan, sering mengalami cedera atau keretakan tulang.

Menurut Luciana, hal ini perlu menjadi perhatian, khususnya perempuan yang memasuki usia 30 tahun karena pada masa itu mereka cenderung mengalami penurunan massa tulang sampai periode menopause dan seterusnya.

Jika mereka menikah, di usia 30-an, banyak dari mereka yang mungkin hamil atau menyusui dan inilah salah satu kelompok risiko osteoporosis. Penelitian International Osteoporosis Foundation menunjukkan, risiko perempuan untuk terkena osteoporosis 4 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

"Sayangnya, tidak banyak perempuan usia 30 yang sadar menjaga kesehatan tulang sangatlah penting," tutur Luciana.

Dalam menjaga kesehatan tulang, asupan makanan mengandung kalsium dan vitamin D menjadi penting dan sebaiknya dimulai bahkan sebelum seseorang memasuki usia 30 tahun. Kedua nutrisi ini bisa bekerja secara sinergis untuk menjaga kesehatan tulang.

Orang Indonesia pada umumnya hanya mengonsumsi 25 persen kalsium (254 mg) dari asupan kalsium harian yang direkomendasikan (1000 – 1200 mg). Menurut Luciana, suplementasi dapat mengompensasi defisit ini.

Selain itu, hidup sehat seperti aktif berolahraga, mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, tentu akan membantu mencegah seseorang terkena osteoporosis.

Menurut Infodatin Kementerian Kesehatan RI 2020, pada tahun 2050 di seluruh dunia, diperkirakan 6,3 juta orang per tahun mengalami patah tulang pinggul, dan lebih dari setengahnya terjadi di Asia.

Pada tahun 2050, penduduk Indonesia pada kelompok risiko osteoporosis akan tumbuh sebesar 135 persen. Sebanyak 40,6 persen perempuan Indonesia berusia 20-29 tahun memiliki massa tulang rendah, yang meningkatkan risiko osteoporosis dan patah tulang dalam 20 tahun ke depan saat mereka mencapai menopause.  ***