Semangat Baru Penganekaragaman Pangan

Semangat Baru Penganekaragaman Pangan
Pangan Lokal Pengganti Beras

Wjtoday, Bandung - Secara konseptual, diversifikasi atau penganekaragaman pangan adalah upaya peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan berbasis pada potensi sumber daya lokal.

Di sisi lain kita juga mengenali bahwa tujuan utama dari penganekaragaman konsumsi Pangan (diversifikasi pangan) adalah membudayakan pola konsumsi pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman untuk hidup sehat, aktif, dan produktif.

Pola konsumsi pangan masyarakat kita, lebih dari 90 % terekam masih menggantungkan diri terhadap beras. Tanpa beras, seolah-olah tidak ada kehidupan. Pemerintah sendiri sudah sangat memahami atas masalah ini. Untuk itu, upaya mengerem konsumsi beras terus dilakukan.

Ironisnya, seiring dengan semakin gencarnya Pemerintah mengkampanyekan pentingnya diversifikasi pangan, maka konsumsi masyarakat terhadap beras pun tidak menunjukan angka penurunan yang tidak signifikan. Masyarakat rupanya masih belum ikhlas melepas ketergantungannya terhadap beras.

Persoalan yang mengedepan adalah mengapa kita begitu sukar menggeser pola konsumsi masyarakat dari beras ke non beras? Apa yang menjadi penyebab utama masyarakat tidak berkenan untuk mengkonsumsi pangan non beras? Dan bagaimana pula kesiapan Pemerintah dalam menskenariokan pemikiran diversifikasi pangan ke arah penerapannya di lapangan?

Upaya meragamkan pola makan masyarakat agar tidak tergantung kepada beras, sebetul nya telah digarap sejak tahun 1960an. Lebih dari 60 tahun kita berjuang untuk membangun mind-set baru tentang pentingnya penganekaragaman pangan. Pemerintah hampir tak bosan-bosannya menelorkan kebijakan, strategi, program dan kegiatan yang berhubungan dengan diversifikasi pangan ini.

Namun bagitu, kita juga tidak lupa akan ada nya kebijakan Pemerintah yang "bertabrakan" dengan niat Pemerintah untuk meragamkan menu makanan masyatakat ini.

Disatu sisi kita menginginkan agar masyarakat mengurangi konsumsi beras, namun di sudut yang lain, kita menangkap adanya program yang memaksa orang-orang untuk mengkonsumsi nasi.

Tentu kita masih ingat di awal tahun 2000an, Pemerintah telah melahirkan Program Beras untuk Rakyat Miskin alias Raskin. Semangatnya adalah membantu pengeluaran rakyat miskin agar mereka dapat memanfaatkan subsidi beras untuk digunakan membeli lauk pauk lainnya.

Namun demikian, penting dicatat program ini betul-betul mementahkan kembali kebijakan diversifikasi pangan yang selama ini telah dirintis dengan baik.

Bayangkan, warga masyarakat yang semula pola konsumsi kesehariannya menyantap jagung atau sagu sebagai makanan pokoknya, ternyata dengan adanya program Raskin, mereka pun harus beralih ke nasi. Dan kita tahu persis, bila orang sudah mengenal nasi, maka sulit sekali untuk melepaskannya lagi.

Yang asalnya menyantap jagung atau sagu sebagai makanan pokok nya, mereka tidak mau lagi kembali ke jagung atau sagu, karena di mata mereka nasi terbukti lebih enak dan gampang memasaknya. Seorang sahabat malah memvonis bahwa program raskin sudah sangat terbukti menghambat semangat penganekaragaman pangan.

Sekitar 16 tahun spirit diversifikasi pangan dikacaukan dengan adanya Program Raskin, lalu ganti nama dengan Program Rastra, kemudian jadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), hingga di saat pandemi covid 19 kita mengenal yang disebut Bantuan Sosial/Bantuan Pangan. Kurun waktu yang tidak pendek ini, tentu saja menjadi catatan agar tidak terulang lagi di masa mendatang.

Terlepas dari apa yang melandasi lahirnya program Raskin, tidak ada salahnya bila kita pun mempertanyakan mengapa saat itu tidak diluncurkan program Pangkin alias Pangan untuk Rakyat Miskin.

Artinya mereka yang terbiasa makan jagung sebagai makanan pokoknya, ya diberi jagung. Mereka yang mengkonsumsi sagu, ya diberi sagu. Dan beras diberikan kepada mereka yang makanan pokoknya beras. Inilah semangat Pangkin. Jadi bukan hanya beras.

Diversifikasi pangan adalah proses panjang yang membutuhkan dukungan dari seluruh komponen bangsa. Perjalanan sekitar 60 tahun kita berkutat dengan kemauan politik untuk mengejawantahkan spirit tersebut dalam kehidupan nyata di masyarakat, ada baiknya dijadikan kepustakaan yang sangat berharga guna perbaikan ke depan.

Kita tidak boleh lagi menggantungkan diri kepada pemerintah. Justru kita harus bersama-sama pemerintah menggarapnya.

Mengurangi konsumsi beras dan menggantinya dengan pangan lokal, sungguh merupakan langkah cerdas yang penting dikampanyekan. Kita tidak boleh merasa lelah untuk terus mengadvokasi masyarakat tentang betapa seriusnya mengerem laju konsumsi masyarakat terhadap beras.

Kita ingatkan terus masyarakat bahwa meragamkan menu makanan akan banyak memberi keuntungan bagi kita semua.

Lanjutkan Penganekaragaman Pangan ini. Siapa tahu dengan kerja keras dan kerja nyata, kita akan mampu menorehkan sejarah dalam sejarah pembangunan pangan di tanah merdeka ini. Sebuah semangat baru yang butuh dukungan dari semua pihak.***

(PENULIS: ENTANG SASTRAATMADJA KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).